Sabtu, 30 Januari 2010

Boneka-boneka yang Terkutuk

Berikut adalah boneka-boneka terkutuk (Possesed Doll) yang terkenal dan sekarang mereka masih disimpan dan disegel di Museum2 di Eropa:

1. Robert The doll

Boneka ini sebelumnya dimiliki oleh seorang painter Robert Eugene Otto dari pengasuhnya. Banyak gosip mengenai pengasuhnya ini, ada yang mengatakan pengasuhnya ini mengalami hal2 yang tidak menyenangkan dari orang tua Eugene, sehingga untuk membalas dendam ia memberikan boneka terkutuk ini untuk Eugene. Tetapi Eugene menganggap pemberiannya ini sebagai tanda cinta pengasuhnya, sehingga ia menamainya Robert dan memakaikan baju kepadanya. Selama hidup Eugene, Robert selalu berada di sisinya (Seperti boneka beruangnya Mr. Bean)
Sebulan setelah kedatangan Robert di rumah keluarga Otto, gangguan mulai muncul. Barang2 suka hilang dan rusak, dan Eugene memiliki kebiasaan yang aneh, sering keluar dari jendela kamarnya dan jalan2 di tengah malam. Suatu ketika Eugene dipergoki keluarganya....tetapi ia menjawab "Robert yang melakukannya"
Sekarang Robert bersemayam di Historic Custom House dan dipajang di display tertutup rapat. Ia masih mengenakan baju sailor suit Eugene dan memeluk teddy bear. Beberapa pengunjung menyimpan permen pepermint di depan displaynya dan sewaktu dikunjungi lagi hanya akan tersisa bungkusnya yang berserakan di sekitar robert.

2. Mandy the Doll

Mandy the Doll sekarang dipajang di Quesnel Museum di Old Cariboo Gold Rush Trail, British Columbia. Mandy didonasikan ke museum di 1991. Saat itu baju yang dikenakan sangat kotor, badannya rusak dan kepalanya penuh dengan retakan. Saat di periksa, umur Mandy bisa dibilang sangat tua yaitu 90 tahun
Perempuan yang mendonasikan Mandy, Mereanda, mengatakan kepada museum bahwa ia selalu bangun di tengah malam dan selalu mendengar bayi menangis di basement. Ketika diperiksa, ia menemukan bahwa jendela di dekat boneka terbuka, padahal sebelumnya jendela dalam keadaan tertutup. Setelah boneka tersebut didonasikan ke Museum, ia tidak pernah lagi diganggu oleh suara tersebut.

3. The Devil's Baby Doll

Boneka dengan ukuran bayi asli ini adalah boneka terseram yang dapat kita lihat. Dengan kulit berwarna merah an bola mata kaca berwarna biru terang. Kelucuannya tertutupi oleh iblis yang bersemayam di boneka tersebut. Boneka ini sangat tidak disarankan untuk dijadikan maenan anak anda ^^.
Aslinya diberikan sebagai hadiah untuk temannya yang telah meninggal. Tetapi boneka ini dapat bergerak sendiri dan sering terdengar raungan aneh dan bunyi2 aneh darinya.

4. Annabele

Tahun 1970, seorang ibu berjalan ke toko hoby dan membeli boneka Raggedy-Anne sebagai hadiah untuk anaknya. Lalu mulailah kasus boneka hantu yang tidak biasa. Karena sifat Annabelle yang sangat jahat, di tahun yang sama ia mengganggu dua orang perawat yang menyebabkan dilakukan investigasi paranormal oleh gereja.
Sekarang ia dikunci didalam gelas kaca yang tertutup rapat di museum occult untuk mengurungnya.

5. Haunted Doll Voodoo Zombie

Cerita ini dikirim oleh seorang perempuan di Galveston, Texas yang membeli boneka Zombie Voodoo Doll yang asli di bulan Oktober 2004. Boneka itu datang dan diikat di box metal. Menganggap bahwa hal itu hanya hiasan, ia mengeluarkan peti mati kecil dan membukanya. "Benar-benar kesalahan terbesar..." katanya dalam keadaan ketakutan. Boneka terkutuk itu menyerangnya berkali2. Kekhawatiran nyawanya terancam, ia mengambil tindakan menyimpannya kembali ke boxnya. tetapi boneka itu menyerangnya dalam mimpinya. Akhirnya ia mangambil tindakan lain untuk menghancurkannya, pertama ia membakarnya, tetapi boneka itu tetap utuh tidak terbakar sedikitpun. Kemudian memotongnya dan kemudian menguburnya di kuburan. Tetapi boneka itu tetap muncul di depan pintu rumahnya dengan penuh lumpur.
Ia mengatakan, ia juga pernah menjualnya kembali, tetapi semuanya tetap sama. Pembeli mengatakan bahwa bonekanya hilang dan ia menemukannya kembali di pintu depannya. Kejadian itu berulang sebanyak tiga kali. Akhirnya ia meminta bantuan pendeta untuk menguncinya di box silver dengan bacaan2 suci dan menyimpannya di atap rumahnya. Foto diatas diambil saat dibuka pertama kalinya sebelum ia mengetahui bahwa boneka tersebut boneka terkutuk

6. Harold

Boneka ini diperkirakan dibuat tahun 1930 . Boneka ini dapat bergerak sendiri dan suara terdengar dari boneka tersebut.

7. Pupa

Pemilik awalnya memiliki boneka ini pada umur 5-6 tahun (1920-an) sampai ia meninggal di bulan July 2005. Boneka ini luput dari kehancuran Perang dunia kedua dan beberapa kecelakaan yang menyebabkan boneka ini hancur. Boneka ini selalu dibawa oleh pemiliknya kemanapun ia akan pergi, sama seperti Harold.
Pupa dikatakan dapat bergerak sendiri. Sering dilihat mendorong barang di sekitar tempat pajangan di rumah pemiliknya. Sampai pemilik awalnya meninggal, pupa menjadi sangat aktif dan seperti ingin dilepaskan dari tempatnya disimpan.
Boneka ini dikenakan pakaian baju biru. Ia sering dilaporkan mengganggu orang yang merawatinya. Sering pula Pupa berada di tempat yang berbeda daripada tempat terakhir ia dilihat. Ada kejadian keluarga tersebut mendengar seseorang mengetuk kaca saat mereka melewati kotak pajangan tempat Pupa disimpan. Ketika mereka melihatnya, mereka melihat bahwa tangan Pupa berada di kaca dan posisinya berbeda dari sebelumnya.

8. Allice

Allice tinggal bersama pemiliknya Marie Ford di Washington. Boneka ini membisikan suara jika kamu mendekatkan telingamu ke bibir boneka. Matanya akan mengikutimu saat kamu ada di ruangan ini dan ekspresinya akan berubah jika ia tidak menyukaimu. "Boneka ini milik keluargaku untuk beberapa tahun ini dan selalu disimpan di bok boneka yang terkunci" kata Marie. "Nenekku mengatakan bahwa boneka itu dirasuki oleh roh "teman dekat" Alice yang meninggal". "Aku telah menangkap EVP darinya, dan kalimat yang sering diucapkan "I want to be left alone to suffer"

9. Joliet The Haunted Cursed Doll

Joliet adalah boneka terkutuk dan berhantu. Cerita mengatakan bahwa Joliet berasal dari 4 generasi sebelumnya, dari sebuah keluarga. Anna G mengatakan bahwa boneka ini diturunkan dari ibu ke anaknya dari sebuah keluarga. Dan setiap anak perempuan dikutuk untuk memiliki 2 anak, perempuan dan laki2 dan setiap anak laki2 akan meninggal dalam 3 hari. Keluarga ini mempercayai bahwa anak2 ini dikutuk untuk menempati boneka ini sampai hari penghakiman.
Joliet sering didengar menangis di tengah malam dengan suara beberapa bayi secara bersamaan. Sering pula didengar suara teriakan yang membuat merinding. "Boneka ini diberikan oleh teman nenek buyutku yang cemburu, ketika ia mengandung anak laki2. Sejak itu semua anak laki2 akan meninggal dalam waktu 3 hari setelah kelahiran. Setiap keluarga mencintai boneka itu dan merawatnya untuk anak2 yang telah meninggal hingga hari ini. Anakku akan melakukan hal yang sama jika ia sudah dewasa." kata pemiliknya.
"Kita tidak pernah untuk mengusirnya, karena kita mengetahui bahwa roh anak laki2 kami terperangkap didalamnya dan kami tidak ingin melukainya."

sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3255895

Inilah Kisah Anak-anak yang dibesarkan oleh hewan

Anda tentu ingat tentang kisah seorang anak yang dibesarkan oleh kumpulan monyet, yup itulah Tarzan, rupanya bukan cerita omong kosong belaka hewan memelihara anak manusia hingga akhirnya berubah seperti mereka, dibawah ini adalah sedikit kisah menakjubkan dari manusia yang di besarkan oleh hewan !
Gazelle Boy
imagephp
Pada tahun 1960, antropolog Spanyol Jean-Claude Auger menerima laporan dari nomads di gurunSahara bahwa ada seorang anak telah berjalan bebas di gurun. Ia pergi untuk melakukan investigasi, dan tentu saja, ia melihat seorang anak laki-laki bersama sekumpulan gazelles ( Kijang Gurun).
Antropolog tersebut kemudian memperhatikan anak tersebut, dan betapa kagetnya ia ketika melihat anak tersebut berkomunikasi dengan kawanan hewan tersebut sambil memakan akar-akaran, kadal, dan cacing .
Auger kembali dua tahun kemudian dengan tentara Spanyol untuk menangkap anak tersebut. Tetapi ketika mereka mencoba untuk mengejar,Jeep yang ditumpanginya terbalik. Tahun 1966,
Auger membuat satu upaya terakhir untuk menangkap anak dengan helikopter dan jaring, tetapi juga tidak berhasil menagkap anak tersebut.
John Ssbunya
john-ssebunya
Pada tahun 1988,anak laki-laki berumur 4 tahun bernama John Ssebunya melihat ayahnya menembak dan membunuh ibunya. Takut akan hidupnya, Yohanes berlari ke dalam hutan di negara Uganda dan bergabung dengan kumpulan Monyet penghuni hutan tersebut, salah satu dari beberapa binatang menyusui lainnya menerima anak tersebut menjadi bagian dari kelompoknya.
Ketika Yohanes ditemukan lebih dari satu tahun kemudian, ia mempunyai rambut tebal meliputi tubuhnya, dia berjalan berlutut dan menekuk jari tangannya, dan dia tidak bisa memakan makanan yang dimasak.
Namun setelah diadopsi sebuah panti asuhan Kristen di kota Masaka, sisi kemanusiaannya mulai terlihat. Sekarang ia berumur 24, John telah belajar untuk berbicara dan berjalan tegak lurus. Ia bahkan memutar musik dan gitar. Dan pada tahun 1999, dia bepergian ke Eropa dengan dari Afrika dengan anak-anak paduan suara. (Foto: BBC - Anak Wolves’ Busana)
Ivan Mishukov
ivan-mishukov
Pada tahun 1996, 4 tahun Ivan Mishukov berlari jauh dari orang tua untuk menjadi salah satu dari 2 juta anak-anak tuna wisma hidup di jalanan di Rusia.
Setelah hidup terlunta-lunta dijalanan kota Moscow, akhirnya ia bergabung dengan kumuplan anjing jalanan untuk mencari makanan dan perlindungan di dinginya langit malam kota Moscow, dan menjadikan dia pemimpin mereka.Dua tahun kemudian, polisi menangkap anak tersebut di belakang dapur di sebuah restoran, ketika sedang mengais sisa sisa makanan, kemudian ia dibawa kesebuah panti sosial dan dengan cepat untuk menyesuaikan dengan kehidupan dunia manusia. Sekarang, Ivan hidup dengan normal , walaupun dia masih mimpi tentang anjing. (Foto: Marcianitos Verdes)
Victor
wildboy
Ditemukan anak 12 tahun bernama Victor muncul dari kayu di Aveyron, Perancis, ia tidak dapat berbicara, makan daging mentah, dan banyak cakaran diseluruh tubuhnya.
kejadian tersebut terjadi tahun 1799, dan Victor segera menemukan dirinya di tengah perdebatan filosofis dari alam sekitar manusia. Adalah manusia dilahirkan baik, hanya akan rusak oleh masyarakat? Atau dia dilahirkan egois dan kejam, dalam kebutuhan masyarakat?
Seorang dokter bernama Jean Itard dikhususkan untuk menganalisa Victor, percaya bahwa jika ia dapat mengajarinya untuk dapat berbicara bahasa manusia dan menunjukkan rasa kasih sayang, ia dapat membuktikan, bahwa jauh dari pendidikan dapat menimbulkan sisi binatang kita semua. Sayangnya untuk Itard, Victor tidak pernah membuat banyak kemajuan.
Misha
misha_defonseca
Pada tahun 1997, seorang wanita bernama Monique “Misha” Defonesca mempublikasikan kisah hidupnya tentang Holocaust. Menurut buku nya, Nazi telah membunuh orang tuanya di Brussels ketika dia hanya berusia 7 tahun. langsung saja, ia hanya sebatang kara Misha melewati daratan eropa sendirian dengan sepasang serigala yang menemaninya selama berbulan-bulan, mungkin tahun.akhirnya tibalah ia di Ukraina.
Cerita sebuah kisah hidup yang menakjubkan, koran Belgia mewawancarainya dan memberitakan rincian dan menemukan bahwa Misha’s nama sebenarnya adalah Monique De
Waal. Meskipun orang tuanya meninggal dalam perang, ia akhirnya dirawat oleh kakenya. Misha kemudian datang dengan bersih dan menjelaskan ke pers Belgia cerita “kenyataan” dan “jalan hidup”.
Amala & Kemala
amala-1
Dua remaja putri ditemukan di dekat Calcutta 1926 oleh Wahyu Yusuf Singh, seorang pendeta lokal di panti asuhan. Singh menulis dalam buku harian bahwa mereka telah lama mempunya gigi yang aneh dan benci kepada matahari, melolongi bulan, makan dari mangkuk di atas tanah, dan melihat dengan jelas di dalam gelap. Ia mencoba untuk membudayakan kehidupan bersosialisasi Amala dan Kamala, tapi tidak dapat.

Jumat, 29 Januari 2010

Top 10 Greatest Warriors

10. Richard I (Lionheart)

Richard I was given the nickname Lionheart (or Coeur de Leon) for his exceptional fighting ability and courage. The duke of Normandy and the Count of Anjou, he ascended to the throne of England in 1198 after defeating his father Henry II with the help of his powerful mother Eleanor of Aquitaine. Richard took the cross in 1188 when he heard of Saladin’s successful conquest of Jerusalem. He raised funds by selling official titles, rights and lands to the highest noble bidder. He left for the Holy Land in 1190 along with French King Philip II and most of the military forces of Christendom. After being waylaid first in Sicily and then in Cyprus, Richard and Philip arrived in the Holy Land in June 1191. The joint forces first took Acre and then moved onto Arsuf before fortifying Ascalon. Arguments between who was to become King of Jerusalem escalated and Philip quit the Crusade and returned to France. Richard pressed on but when he realized he had no way of securing Jerusalem even if he had managed to capture it, he signed a peace treaty with Saladin and returned to Europe. He spent his final five years reclaiming his throne from his brother John and fighting against Philip’s advances into Normandy.

9. Spartacus

Born in Thrace in 109 BC, Spartacus is most widely known as the gladiator who led the revolt against Rome during the Gladiatorial War. It is not known for sure how Spartacus became a gladiator but the leading theory is that he once fought for the Roman army but deserted and became a thief. He was arrested and sold as a gladiator due to his strength. In 73 BC he and seventy followers escaped from a gladiator school near Capua and fled to Mount Vesuvius where they were joined by local slaves. His army continued to grow until it was 90, 000 men strong and they began wreaking havoc in southern Italy, defeating two Roman armies and plundering any city they came across. From there they marched north into Gaul where he tried to free his men but they refused to leave and they marched again into Italy for more plunder. Spartacus was killed in a battle at Lucania in 71 BC and his men were crucified. He has been remembered as a legendary commander not only for his successes in battle but for his own courage strength and compassion.

8. Saladin

Known to the western world as the antihero of the Third Crusade, he is revered in the Middle East as the hero who returned Jerusalem into Muslim hands. The Kurdish Sultan was born in 1138 in Mesopotamia (now Iraq) and grew up during the First Crusade. He was trained as a soldier by his uncle Asad al-Din Shirkuh and early in his military career he worked on uniting Arab forces under his control first in Egypt then in Syria and Palestine. He then set his sights on Jerusalem and conquered King Guy de Lusignan at the Battle of Hattin. The battle was a tremendous success for Saladin as his army almost wiped out the Crusaders in the Holy Land. The city of Jerusalem fell into his hands when he came to terms with Balian of Ibelin who defended the city after the capture of Guy. His capture of Jerusalem influenced King Richard of England to join forces with King Philip of France and set out for the Third Crusade to the Holy Land. The Christian forces made their way to Ascalon when Richard fell ill and signed a peace treaty with Saladin that left Jerusalem in Muslim hands as long as Christians would be able to safely make their pilgrimage. His reign of Jerusalem was short lived however as he died of a fever on March 4, 1193. Saladin is most often recognized as much for his generosity and chivalry as he is for his impressive military accomplishments.

7. Lieutenant Audie Murphy

Born the son of a poor Texas sharecropper in 1924, Audie went on to become the most decorated American soldier of World War II. In an attempt to free himself of his hardships, he joined the army as a private in 1942. After his basic training he was shipped to Casablanca, Morocco where he continued with his training. He saw action in North Africa, Sicily, France and Germany and was distinguished by his quick thinking and bravery. He not only destroyed several of the enemy’s machine guns in minutes but also jumped onto a burning tank destroyer and turned its machine gun on the enemy as well as cutting off a German counterattack of six tanks and 250 Infantry practically by himself. For these acts of courage he has received countless decorations including the Medal of Honor, Distinguished Service Cross, two Silver Stars, the Legion of Merit, two Bronze Stars, and three Purple Hearts; as well as the French Legion of Honor and two Croix de Guerre. He returned to America as a hero and turned his wartime fame into a successful film career. With help from his friends, Audie penned an autobiography entitled To Hell and Back, which was later made into a movie in which he played himself. While on a business trip he died in a plane crash on May 28, 1971 and was buried at Arlington National Cemetery with military honors.

6. Miyamoto Musashi

The greatest sword fighter of his time, Miyamoto Musashi, also known as the Sword Saint, is one of the best-known samurai in Japanese history. Born in 1584 in Harima Province, Musashi was raised by his uncle in Shoreian temple. By the time he was 13 he had already won his first duel against Arima Kigei, a student of the Shinto Ryu school of military arts. For the next 16 years he made a name for himself, fighting in more than 60 duels (including against the Yoshioka School and his most famous duel against Sasaki Kojiro) in which he was undefeated. During this time he also enlisted in Toyotomi Hideyoshi’s army and although he was on the losing side, he escaped, crawling among corpses and drinking from muddy puddles to survive. After the war, he turned his attention to teaching swordsmanship and he is credited with creating the nitoryu technique in which you fight with two swords. Later in his life, he became a master painter and writer. His most famous written work is The Book of Five Rings, which covers the sum of his experience as a sword fighter including strategy, tactics and philosophy. At the age of 62, Musashi died of thoracic cancer in Reigando Cave (the same cave where he lived as a hermit while writing The Book of Five Rings).

5. Gaius Julius Caesar

The greatest general in Rome’s history, Caesar came to power first as a quaestor and praetor before being elected as consul and proconsul in 59 BC and organizing the First Triumvirate with Pompey and Crassus. He distinguished himself by leading campaigns in Gaul, Britain and Germany but his growing power scared the senate and he was asked to disband his forces. Not only did he refuse this request, he marched on Rome. He started an outbreak of civil war that lasted until December 49 BC when he held a dictatorship in Rome for eleven days while he was elected as consul. He then chased Pompey to Egypt where he remained living with Cleopatra for several years. On his return to Rome he improved the living conditions of his people and drew up elaborate plans for consolidation of the empire. In 44 BC he became dictator for life, a title that was short lived because on the Ides of March (March 15th) 44 BC, he was stabbed to death by a group of his friends and protégés including Cimber, Casca, Cassius and Brutus.

4. Hannibal Barca

A Carthaginian General, Hannibal was a master strategist who developed outflanking tactics. Dubbed the father of strategy by military historian Theodore Ayrault Dodge, he grew up with a fierce hatred of the Romans. After the death of his brother-in-law Hasdrubal, he took command of the Gaulo-Cathaginian army and set his sights on Rome. He set out in the spring of 218 BC and fought his way through the Pyrenees and the Alps with a force of 46,000 soldiers and 37 war elephants. When he was in Roman territory, he ravaged hundreds of towns leaving complete destruction in his wake. Some of his greatest victories were at Trebia, Lake Trasimenus and Cannae, even turning some Roman cities against his enemies. Scipio eventually defeated him in his homeland at the Battle of Zama, after which he signed a peace treaty in 201 BC. After several years as a suffete, he was accused by his political enemies of conspiring with King Antiochus of Syria. At the threat of a Roman investigation, Hannibal fled to the court of King Prusias of Bithynia where he poisoned himself before the Romans could force him to surrender.

3. Sun Tzu

A Chinese General, Sun Tzu was the author of the first and most sophisticated book on military theory ever written, The Art of War. While not much is known about the man, it is generally accepted that he was an accomplished General who served the King of Wu in the period of the Warring States in the 4th century BC. It was at this time that he wrote The Art of War, which covers logistics, espionage, strategy and tactics with a deep reliance on philosophy. The main points it stresses are the high cost of war, the unpredictability of battle, the correlation between political and military policies and the ineffectiveness of setting hard and fast rules. Not only has it influenced Asian military thinking for centuries, but it has also formed the base of the military strategies of Napoleon, Mao Zedong, General Norman Schwarzkopf Jr. and Henry Kissinger. In more recent times, The Art of War has been adopted by business students in Tokyo, New York and London as a text on business strategy.

2. Leonidas I

Best known for his heroic last stand at the Battle of Thermopylae, Leonidas’ early years have barely been documented although legend has it that he was the descendant of Heracles. His reign began somewhere around 490 BC and he shared control with Leotychides, as was Spartan custom of the time. The Persian army, led by King Darius, had been conquering Greece for close to ten years when Leonidas became King. When Darius died in 481 BC his son Xerxes continued his father’s expansion into the Greek mainland. In an attempt to stop the advancing army in their tracks, Leonidas (despite warnings by the Oracle of Delphi that told of his death) went to meet Xerxes with 7000 troops including the famed 300 Spartans, at the Pass of Thermopylae (aptly nicknamed the Hot Gates). Xerxes sent in wave after wave of troops including his Immortals who were in turn slaughtered by the Greeks. After a few days of fighting a Greek traitor told Xerxes of a mountain trail which he could use to outflank his enemy. Leonidas learned of the betrayal and sent away most of his men keeping only the 300 Spartans that made up his personal guard. Leonidas’ 300 valiantly fought off the advancing Persians down to their last man. Leonidas was killed and his body was beheaded and crucified which only served to anger his fellow Spartans who expelled the Persians from Greece a few months later at the Battle of Plataea.

1. Alexander the Great

Arguably one of the greatest generals of antiquity, Alexander’s conquests extended the Macedonian kingdom from Greece to India, almost the entire known world at the time. Born in 356 BC his early years were spent under the tutelage of the philosopher Aristotle. His early military career was spent releasing Greece from the grasp of the Persians. From there he moved through Syria, Egypt (where he founded the city of Alexandria and visited the oracle of Ammon and claimed his divinity), and Asia Minor before his final conquest into India. He then returned to the west and began making preparations to invade Arabia but before he could achieve this conquest, he fell ill and died in June 323 BC. Throughout his reign, the casualties of his troops compared to those of his enemies were considerably less, mostly due to his quick tactical thinking and his love for the men who fought under him.


source: http://www.toptenz.net/top-10-greatest-warriors.php#

Kompleks Kuburan Belanda sebagai Jati Diri Aceh

Enter a description of the photo here
Kompleks perkuburan militer Belanda terletak di tengah-tengah kota Banda Aceh, sampai saat ini masih terawat dengan baik.
Kompleks kuburan ini lebih dikenal sebagai Peucut Kerkhof dan ini membuktikan Pemerintah Aceh dan masyarakatnya tidak pernah dendam tentang masa lalu. Berikut laporan Lola Alfira, reporter radio mitra Ranesi FAS FM di Meulaboh.
Salah satu jejak dokumen sejarah yang masih tersisa di Aceh sekarang ini adalah komplek perkuburan militer Belanda. Pemerintah kota Banda Aceh telah merawat dengan baik sekitar 2200 jasad prajurit Belanda, termasuk serdadu tawanan yang dibawa dari Ambon dan Pulau Jawa, pada saat Belanda memerangi Aceh 26 Maret 1873 sampai 1942. Empat jenderal Belanda juga dikuburkan di Peucut Kerkhof, ucap Adli Abdullah, pemerhati sosial budaya Aceh.
Adli Abdullah: “Sebenarnya ada empat jendral Belanda yang meninggal di Aceh, Köhler, Van Swieten, Pel dan satu lagi saya lupa. Seperti Köhler misalnya, dia meninggal 14 April 1873, gugur di depan Mesjid Raya, kemudian oleh pasukannya dilarikan ke laut dan dibawa. Sehingga ekspedisi Belanda pertama itu gagal. Balik ke Jakarta dan dimakamkan di Tanah Abang, di Jakarta. Dikembalikan ke Aceh sebenarnya tidak ada rencana awalnya. Cuma atas inisiatif Gubernur Aceh waktu itu Muzakir Walad, karena Köhler ini meninggalnya di Aceh, apalagi karena kena penggusuran di Jakarta, karena perluasan kantor Balai Kota, makanya tulang belulangnya dimakamkan di Aceh.”
Sebelum kita memasuki halaman kuburan Peucut Kerkhof, terdapat kalimat bertuliskan “2200 Prajurit dikuburkan di sini. Angkatan Perang Kerajaan Hindia Belanda Timur (KNIL) membayar mahal atas kehadirannya di Aceh.”
Amri penjaga makam yang sudah 17 tahun bertugas merawat kompleks Peucut Kerkhof menjelaskan, di setiap batu nisan dibuat tanda untuk menjelaskan yang dikuburkan tersebut tewas karena perang atau karena sakit.
http://www.rnw.nl/data/files/images/peucut%202.JPG
Amri: “Tanggung jawab saya cukup luar biasa. Kebersihannya. Pokoknja hari potong rumput, supaya kerkhof ini tetap bersih. Yang rusak-rusak diperbaiki yang bagus. Dicat, baik itu kuburan, pagar sekeliling kerkhof diperbaiki, sampai kantor-kantornya, perumahan karyawan di sini”.
Nama kerkhof berasal dari bahasa Belanda yang berarti halaman gereja atau kuburan. Sedangkan Peucut berasal dari nama salah seorang putera Sultan Iskandar Muda yang dihukum mati dan dikuburkan di salah satu bukit kecil di dalam komplek makam. Sehingga penggabungan nama Peucut Kerkhof dikenal sebagai situs sejarah peninggalan Belanda di areal seluas 3,25 hektar.
http://www.rnw.nl/data/files/images/peucut%205.JPG
Sementara itu perawatan Peucut Kerkhof dibiayai oleh Stichting Peucut Fonds atau Yayasan Dana Peucut. Yayasan tersebut pada dasarnya bermaksud untuk menyelamatkan kuburan militer Belanda agar dapat disaksikan oleh generasi mendatang. Dewan pengurus yayasan khususnya mengumpulkan dana untuk perbaikan dan pemeliharaan semua aktivitas ini sesuai dengan MOU antara Pemrintah Aceh dengen Belanda. Yayasan Dana Peucut sendiri berdiri sejak 29 Januari 1976, ketua yayasan pertama bernama Letnan Jendral F. van der Veen seorang perwira di Korp Marchaussee yang pernah bertugas di Aceh, karena memang korps itu didirikan di Aceh.
http://www.rnw.nl/data/files/images/peucut%204.JPG
Peucut Kerkhof merupakan gambaran nyata bagi masyarakat Aceh. Setiap kuburan memiliki kisahnya sendiri. Ini bukti kedahsyatan perang Aceh melawan Belanda tidak membuat situs sejarah ini terbengkalai. Karena masyarakat Aceh tidak membawa dendam sampai mati. Adli Abdullah kembali menjelaskan.
http://www.rnw.nl/data/files/images/peucut%201.JPG
Adli Abdullah: “Bagi masyarakat Aceh musuh itu tidak dibawa sampai mati. Musuh itu ada ketika masih hidup, kalau sudah meninggal itu dianggap sudah menjadi Bani Adam. Makanya pihak-pihak Belanda pada waktu itu, tahun 1984, setuju, waktu Pak Muzakir minta supaya abu jenazah Köhler dibawa pulang ke Aceh. Itu tindakan yang spektakuler.
Bahkan setelah itu, kuburan Duta Besar Aceh yang ada di Belandapun direnovasi. Sehingga Gubernur Aceh Muzakir Walad datang ke Belanda di Middelburg.Dubes itu, Tengku Syeh Abdul Hamid yang pernah dikirim oleh Sultan Syaidil Kamil pada tahun 1601 sebagai Duta Besar Aceh di Negeri Belanda dan meninggal di Belanda. Jadi Köhler dibawa pulang ke Aceh dan kuburan Tengku Syeh Abdul Hamid pun direnovasi. Jadi bagian bukti-bukti sejarah. Makanya sejarah itu penting, itu bagian indentitas suatu bangsa.”
 
 
sumber: http://beritakorslet.wordpress.com/2010/01/29/kompleks-kuburan-belanda-sebagai-jati-diri-aceh/

Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen

“Kenapa anda tidak menembak Soekarno waktu kudeta dulu?” , Kapten Westerling ditanya. Apa jawabnya? Kapten yang pernah mengatakan bahwa Soekarno adalah tokoh yang paling dibencinya, menjawab: “Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga Soekarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan”. Dengan kata lain Westerling ingin menghina Soekarno, bahwa pelurunya lebih mahal daripada nyawa Soekarno.

Indonesia tentu saja geram dengan penghinaan itu. Beberapa kali ada usaha untuk mengekstradisi Westerling ke Indonesia. Sayangnya usaha itu tak pernah terwujud sampai meninggalnya Westerling tahun 1987 dalam usia 68 tahun di Purmerend Belanda. Beberapa jam sebelum meninggal akibat serangan jantung, Westerling dikabarkan marah-marah pada wartawan Belanda yang tidak pernah berhenti menguber noda masa lalunya.

Permintaan untuk mengekstradisi dan mengadili Westerling terutama bukan karena penghinaan tadi. Tapi juga karena kekejamannya di masa agresi militer Belanda plus percobaan kudetanya terhadap Presiden Soekarno. Kekejaman Westerling dituding memakai cara-cara Gestapo. Tudingan ini bukan hanya dari pihak Indonesia, tapi tudingan pada Westreling ini justru sangat gencar datang dari orang Belanda sendiri, terutana kaum peduli HAM.


Harian “De Waarheid” di Belanda menurunkan berita bulan Juli tahun 1947, isinya tentang kekejaman Westerling yang dinilai sama dengan kekejaman pasukan Jerman di PD II. Kemudian harian “Vrij Nederland” Juli 1947, juga merinci bagaimana kekejaman Westerling. Misalnya menyuruh dua tawanan bertarung. Lalu yang kalah ditembak mati. Termasuk mengeksekusi orang-orang tak bersalah di depan umum. Maksudnya untuk menakut-nakuti penduduk lain agar mereka mau buka mulut tentang persembunyian gerilyawan.

“Semua orang kampung, juga perempuan dan anak-anak, dikumpulkan dan ditembaki satu per satu. Saya pura-pura mati dan menjatuhkan diri di antara timbunan mayat berlumuran darah Saya tidak berani bergerak sebelum merasa yakin, Westerling dan pasukannya itu benar-benar telah pergi jauh”. Begitulah kesaksian seorang penduduk di Makassar atas aksi kekejaman Westerling.
Ketika masih bekerja di Jakarta, saya pernah mewawancarai seorang pejabat militer yang bermukim di bilangan Matraman Jakarta. Wawancara itu antara lain menyinggung tentang pengalamannya bertemu Westerling. Pak Suryadi bercerita, dia sempat ditahan di sel oleh Westerling. Di sel itu selama hampir tiga hari dia digantung dengan kepala di bawah dan kaki di atas. “Rasanya saya sudah hampir mati saja. Untung saja saya tidak sampai dibunuh”.

Raymond Paul Pierre Westerling, lahir di Istanbul 31 Agustus 1919, adalah tentara bayaran Belanda. Ayahnya Belanda, ibunya Turki. Tapi ada juga yang mengatakan ibunya orang Yahudi, ada yang mengatakan orang Yunani yang lahir di Turki. Simpang siur. Maklumlah, sejak usia 5 tahun Westerling mesti hidup sendiri di panti asuhan karena ditinggal kedua orangtuanya. Mungkinkah kekerasannya disebabkan sejak usia dini dirinya terpaksa tumbuh sendiri di jaman perang yang ganas, tanpa belaian kasih sayang orangtua?

Kapten ini biasa juga dipanggil “Turk”, panggilan yang biasanya ditujukan buat orang-orang berdarah Turki di Belanda.

Dia bisa bergabung dengan kesatuan Belanda, setelah mendatangi konsulat Belanda di Istanbul dan menawarkan diri sebagai sukarelawan perang. Kebrutalannya dan nalurinya sebagai penjagal mungkin membuat perang menjadi tempat yang cocok untuknya. Dia sendiri pernah mengakui, dalam perang dia menemukan kesenangannya. Keahliannya dalam kemiliteran adalah sabotase dan peledakan. Dia digojlok dalam satuan komando dengan training yang karena begitu kerasnya disebut “neraka dunia”, di Pantai Skotlandia yang dingin kosong melompong tanpa penghuni. Latihan keras untuk meraih baret hijau itu antara lain bertarung dan membunuh dengan tangan kosong, tanpa suara.

Berbekal segudang training berat kemiliteran, akhirnya Westerling sang tentara bayaran ditugaskan ke Indonesia untuk menumpas pemberontakan. Tugas sebagai pimpinan pasukan komando baret merah berada di pundaknya.

Seorang eks anak buahnya menggambarkan Westerling sebagai, “Orang yang kejam, tidak menghargai hidup dan suka melanggar janji. Dia bisa membiarkan tahanan di sel berhari-hari tanpa diberi makanan. Kadang dijanjikannya bahwa tawanan akan dilepaskan kalau mereka mau menolong Westerling. Tapi setelah tawanan itu sudah terlalu lemah dan tidak bisa lagi berjalan, malah langsung ditembak mati”.


Bahkan bagi anak buahnya sendiri, kekejamannya kadang dinilai keterlaluan. Sampai kadang ada yang menolak melaksanakan perintahnya, karena tak sampai hati menembak tawanan. Akibatnya anak buah yang membangkang tentu saja harus menerima hukuman indisipliner dari sang kapten ini.

Di Indonesia Westerling dikenal sebagai “algojo” yang melakukan pembantaian berkubang darah, terutama di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Dari kota Makassar sampai kabupaten Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Enrekang. Kejadian itu sekitar Desember 1946 – Februari 1947. Korban terbanyak adalah di Galung Lombok, kabupaten Barru. Untuk mengenang sejarah kelam itu, pemerintah kota membangun tugu di kota Makassar, disebut monumen korban 40.000 jiwa. Apakah betul sebanyak 40.000 jiwa, hingga kini masih diperdebatkan kebenarannya jumlahnya. Namun ada satu hal yang jelas. Nyaris semua kesaksian, baik pihak Indonesia maupun pihak Belanda sendiri membenarkan bagaimana kejinya kekejaman Westerling. Dia adalah prajurit yang sangat mudah menembak mati seseorang, tanpa alasan jelas. Seperti menembak burung saja. Itu belum terhitung menyiksa tawanan secara tidak berperikemanusiaan.

Untuk menggambarkan kekejaman Westerling yang berdarah dingin itu, J. Dancey seorang perwira Inggris bercerita, “Suatu pagi saya mendatangi Westerling untuk minum dan ngobrol bersama. Tiba-tiba dengan tenang dia mengambil potongan kepala dari keranjang sampah di samping meja kerjanya. Katanya itu potongan kepala dari pimpinan pemberontak yang baru saja dipenggalnya”. Westerling seakan ingin mengajari perwira Inggris itu, “begini lho caranya kalau mau menumpas pemberontakan!”.

Situasi perang kadang membuat seorang prajurit mesti bertindak “saya yang mati atau kamu yang mati”. Sehingga mau tidak mau, kadang mesti membunuh. Namun itu tidak berarti prajurit tidak pakai aturan dan diperbolehkan membunuh sesuka hati. Tetap ada aturannya. Jika tidak, maka bisa kena tuduhan melakukan pelanggaran HAM.

Karena melakukan pembunuhan seenak perutnya sendiri, maka perbuatan Westerling tergolong pelanggaran HAM dan dituding melakukan kejahatan perang. Westerling memang menumpas pemberontakan dengan caranya sendiri. Dengan cara bengis dan kejam. Padahal ketika itu sesuai ketentuan Westerling harus berpegang pada Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di Bidang Politik dan Polisional. Karena keluar dari pedoman komando, Westerling pun dipecat tahun 1948. Di Belanda pun, status Westerling masih sering diperdebatkan. Pahlawan atau penjahat?

Sebagian pihak di Belanda pernah mengelu-elukan Kapten Westerling sebagai pahlawan yang berhasil menumpas pemberontakan. Tapi ada juga kaum kritis di Belanda yang mengatakan Westerling itu cuma seorang penjahat perang.

Westerling dikerumuni wartawan di aiport di Brussel setelah melarikan diri dari Indonesia

Jika saya ke Indonesia, kadang ditanya, “Kenapa sih kamu menikah dengan orang Belanda?. Mereka itu kan penjajah?!”. Bahkan saya pernah bertemu orang yang menolak menyopir mobil karena di antara rombongan ada orang Belandanya.

Jaman sudah berubah. Sejarah bergulir dengan cepat. Namun dendam sejarah masa lampau masih membuat sebagian orang Indonesia tetap menyimpan citra kelabu tentang Belanda.
Faktanya, justru rakyat Belanda sendiri yang mendesak pemerintah Belanda untuk minta maaf terhadap rakyat Indonesia atas kejahatan perang di masa lalu. Bahkan penyelidikan dan penelitian tentang kejahatan dan pelanggaran HAM agresi militer Belanda diungkap sendiri oleh para sejarawan Belanda dan pers Belanda sendiri.

Karena itu sekarang mulai sedikit terkuak misteri, mengapa di masa hidupnya Westerling bisa leluasa bergerak sana-sini. Ini janggal. Apalagi gara-gara kebengisannya di Sulawesi Selatan, ketika itu Westerling sudah dipecat dari kesatuannya. Tapi anehnya, sesudah itu Westerling malah berhasil mendirikan organisasi rahasia, mengumpulkan kekuatan, pendukung dan punya kekuatan senjata. Puncaknya di tahun 1950 malah melakukan kudeta terhadap Indonesia sebagai negara berdaulat. Padahal sehebat-hebatnya Westerling, seberapa hebat sih kekuatan seorang tentara sewaan?

Aneh. Sudah jelas-jelas melakukan kejahatan perang, dipecat, tidak punya fungsi strategis apa-apa di kemiliteran tapi kok bisa lepas dari jerat hukum? Ditambah masih kurang ajar berani mengkudeta Soekarno pula. Padahal ketika itu banyak suara, baik dari pihak Indonesia maupun Belanda sendiri yang ingin Westerling diseret ke mahkamah militer.

Boro-boro diajukan ke pengadilan, tahu-tahu setelah pemecatannya, malah terdengar kabar Westerling berhasil mengumpulkan 500.000 pengikut dan mendirikan organisasi rahasia bernama “Ratu Adil Persatuan Indonesia” (RAPI), dilengkapi kesatuan bersenjata yang dinamakan “Angkatan Perang Ratu Adil” (APRA).

Dengan organisasinya itu, tahun 1950 Kapten “Turk” alias Westerling bekerja sama dengan Darul Islam Jawa Barat mengadakan kudeta yang dikenal dengan peristiwa “kudeta 23 Januari”. Di balik kudeta ini kemudian terungkap juga keterlibatan Sultan Hamid II, eks perwira KNIL (beristrikan wanita Belanda), putra sulung Sultan Pontianak. Motif kudeta di antaranya ingin mendirikan negara sempalan yang bernama Negara Pasundan. Pasukan Westerling menembaki setiap tentara TNI yang ditemui. Sebanyak 79 pasukan Siliwangi dan enam penduduk sipil gugur.

Peristiwa penyerangan APRA, Bandung, 27 Februari 1950
Tapi kudeta itu berhasil digagalkan pasukan TNI. Kegagalan kudeta itu antara lain karena diwarnai desersi anak buah Westerling sendiri. Pemerintah dan militer Belanda sendiri mengaku tidak pernah mendukung kudeta itu. Walaupun demikian, tak bisa disangkal adanya andil dari “oknum” Belanda - siapapun dan apapun namanya, terhadap suksesnya Westerling meloloskan diri ke Belanda.

Sejak peristiwa kudeta gagal itu, Westerling semakin menjadi buruan Indonesia. Namun berkat koneksinya dengan beberapa pejabat militer, akhirnya Westerling dengan menumpang pesawat Catalina berhasil lari ke Singapura. Di negara ini dia sempat ditahan oleh pasukan Inggris selama dua minggu. Namun selanjutnya “Kapten Turk” berhasil lari ke Belgia. Sesudah itu secara diam-diam masuk ke Belanda. Permintaan Indonesia untuk mengekstradisi Westerling tak pernah dikabulkan.

Pemerintah Indonesia tentu saja tahu bahwa tuntutan HAM tidak pernah mengenal batas kadaluarsa. Jika hingga kini tak pernah terdengar adanya tuntutan Indonesia terhadap Belanda terkait masalah ini, mungkinkah karena didasari pertimbangan politis tertentu?

Lolosnya Westerling dari jeratan hukum, menimbulkan pertanyaan yang beberapa lama tidak pernah terjawab. “Mengapa selama itu Westerling bisa lenggang kangkung di balik semua pelanggaran yang sudah dilakukannya? Adakah orang kuat di belakang Westerling? Adakah konspirasi di balik kudeta Westerling? Siapa orang kuat di balik kudeta Westerling? Dari mana Westerling bisa memperoleh senjata? Seberapa besar kekuatan tentara bayaran Westerling hingga bisa membentuk pasukan elit-nya sendiri untuk melakukan kudeta?”.

Latar belakang Westerling ternyata tidak sesederhana yang diduga. Westerling pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, pernah bekerja untuk dinas rahasia Belanda di London dan akhirnya benang merahnya.....tahun 1944 pernah bekerja sebagai pengawal pribadi Pangeran Bernhard.

Akhirnya teka-teki di balik kejanggalan semua ini terkuak, melalui penelusuran dan penelitian sejarawan Belanda bernama Harry Veenendaal dan wartawan Belanda, Jort Kelder.
Setelah mengadakan penelitian selama 8 tahun, keduanya berhasil mengumpulkan bukti dan dokumen tentang keterlibatan Pangeran Bernhard di balik kudeta Westerling. Rupanya suami Ratu Juliana itu ingin seperti Lord Mountbatten yang pernah menjadi raja di India. Jika kudeta Westerling itu berhasil, menurut bukti-bukti yang ada, disebutkan Pangeran Bernhard ingin menjadi raja di Indonesia. Apakah sang Pangeran ingin mempunyai fungsi penting lain daripada “cuma” sebagai suami ratu?


Pangeran Bernhard

Temuan di atas berdasarkan kesaksian dari laporan Marsose dan buku harian sekretaris pribadi istana, Gerrie van Maasdijk. Sekretaris ini dulu dipecat setelah konfliknya dengan Pangeran Bernhard. Penemuan itu dirangkum dalam buku berjudul “ZKH”, Zijne Koninkelijke Hoogheid (Paduka Yang Mulia Pangeran). Menurut penyelidikan ternyata Westerling pernah mengadakan kontak rahasia dengan staf Pangeran Bernhard sehubungan dengan kudeta itu.

Penelusuran mengarah ke bukti-bukti adanya bantuan rahasia penyaluran senjata dari pihak Pangeran Bernhard terhadap pasukan Westerling. Bahkan ada temuan yang menunjukkan bahwa sang Pangeran sudah mengantisipasi jika kudeta itu berhasil. Yaitu permintaan bantuan kepada Jendral Douglas Mac Arthur sebagai panglima di pangkalan Pasifik untuk mengirim pasukannya, jika kudeta Westerling sukses dan menimbulkan perang saudara.

Kalau kita harus menentukan pemenang di antara Westerling, Soekarno, Pangeran Bernhard: siapakah setelah perang yang pantas disebut sebagai pemenang? Westerling yang walaupun disebut penjahat perang, tapi sampai mati tidak pernah diseret ke mahkamah militer? Presiden Soekarno yang gagal dikudeta Westerling (tapi berhasil dikudeta “geger 1965”)? Pangeran Bernhard yang terkesan “immun” karena posisinya sebagai suami sang Ratu?

Entahlah. Orang bilang, di dalam perang yang menang jadi abu, kalah jadi arang. Semua ketiga tokoh di atas sudah “Rest in Peace”. Bagi orang-orang di “alam RIP”, soal kalah dan menang tidak lagi penting. Toh kehidupan sudah memberi setiap orang jatah kemenangan dan kekalahannya masing-masing. Kemenangan bagi seseorang, mungkin disebut kekalahan di mata orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Yang jelas, cerita sejarah perang mungkin saja bisa jadi cerita menarik. Tapi sayang sekali nyaris tak ada cerita tentang damai di dalamnya.

sumber: http://anehbinunik.blogspot.com/2010/01/tembak-bung-karno-rugi-30-sen.html

9 Hal yang Bikin Pria Ilfil Saat ML

Buat pria, berhubungan seks selalu menyenangkan. Mau di atas, di bawah, di dalam rumah, di luar rumah... intinya seks adalah sesuatu yang pantang ditolak. Namun, jangan lupa bahwa pria juga bisa menjadi sensitif, dan ia bisa merasakan jika Anda malu, pasif, atau bahkan jijik saat berhubungan dengannya. Menurut Amber Madison, terapis seks dan penulis buku Hooking Up: A Girl's All-Out Guide to Sex and Sexuality, menyatakan setidaknya ada 9 hal yang sebaiknya tidak Anda lakukan di atas ranjang:

1. Anda merabai bokongnya
Pria sangat menyukai ketika Anda memainkan jemari Anda di sekitar bokongnya. Di situlah letak prostat, dan stimulasi pada area tersebut akan memberikan rangsangan seksual yang menyenangkan buat mereka. Tetapi, Anda harus mengatakannya lebih dulu bahwa Anda akan melakukan manuver di area bokong. Bila tanpa memberi komando sebelumnya tangan Anda sudah berkelana di sana, hal itu hanya menyebabkan mereka sangat tidak nyaman.

2. Menyebut soal mantan Anda
Tak ada pria yang mau membayangkan pasangannya tengah bercinta dengan pria lain. Tak peduli setinggi apa pun pujian Anda terhadap si dia (misalnya, "Kamu jauh lebih hebat daripada mantanku!"), namun hal itu tetap menandakan bahwa Anda masih mengingat-ingat saat berhubungan dengan mantan.

3. Langsung menutupi badan usai berhubungan
Ini yang bikin pria paling ilfil: Anda buru-buru menarik selimut buat menutupi badan Anda, atau membalikkan badan saat memakai pakaian dalam, begitu acara bercinta usai dan si dia tergolek kelelahan. Yang ada di pikiran mereka adalah, "Kita baru saja berhubungan intim, dan sekarang kamu merasa risih karena aku melihat payudaramu. Itu aneh sekali!" Seharusnya, jika Anda memang menikmati hubungan seksual tersebut, Anda juga merasa nyaman saat membiarkan ia melihat Anda dalam keadaan telanjang.

4. Memaksa penisnya berdiri
Apa maksudnya? Begini, kadang-kadang, pria tidak akan langsung ereksi maksimal meskipun Anda sudah melancarkan jurus-jurus foreplay andalan Anda. Saat itu Anda sendiri mungkin sudah siap untuk menerima dirinya, tapi tak perlu mengatakan, "Ayo, sekarang dong!" Sebab, si dia mungkin justru belum siap, dan ia tak akan suka karena itu menunjukkan Anda memaksanya untuk segera beraksi. Kalau sudah begini, dia bisa langsung turn off.

5. Ribet dengan tubuh Anda sendiri
Entah itu karena Anda tak sempat ber-bikini wax, pinggul Anda mendadak berselulit, atau kaki Anda belang sepulang kepanasan di Bali, si dia tak akan peduli. Jika ia sudah turn on, ya turn on saja. Anda tak usah berkeluh-kesah seperti, "Aduh, pahaku item nih. Belangnya kelihatan banget, nggak?" Buat pria, ini enggak penting banget.

6. Tidak mengatakan apa yang Anda sukai
Tidak semua pria mengerti apa yang Anda rasakan ia menyentuh tubuh Anda. Ia tidak tahu sisi mana dari tubuh Anda yang paling sensitif, dan ia sebenarnya mengharapkan petunjuk dari Anda. Tetapi ketika Anda tak juga terangsang ketika ia sudah bekerja keras, ia bisa frustrasi. Jika Anda memang belum merasakan titik sensitif Anda tersentuh, katakan saja.

7. Mengandalkan gaya yang itu-itu saja
Bertanyalah pada pasangan, posisi apa yang paling ia sukai, atau sentuhan apa yang tidak mereka nikmati. Jawabannya pasti, "Selama itu tentang seks, apa saja pasti enak!" Kenyataannya tidak begitu. Suatu saat mereka akan menginginkan Anda mencoba posisi baru, atau mengubah rutinitas yang selama ini berlaku. Cobalah memakai pakaian yang lebih seksi, di lokasi yang berbeda, atau mengajaknya mencari buku-buku yang bisa memberi inspirasi. Ia pasti akan menyambut dengan antusias.

8. Merasa jijik dengan apa pun yang terjadi padanya
Anda mungkin tak sadar mengucapkan kata-kata atau menunjukkan ekspresi yang menandakan Anda merasa jijik. Tapi dalam hal ini pria sangat sensitif. Misalnya, Anda tak biasa melakukan seks oral, dan Anda enggan melakukannya. Katakan saja Anda merasa belum nyaman dengan hal tersebut, dan bukannya mengatakan, "Eeeuuuw....!" Coba bayangkan kalau ia yang mengatakan hal tersebut pada Anda?

9. Anda pemalas atau pasif
Hubungan seks kan terjadi karena Anda dan dia menginginkannya. Karena itu, Anda berdua harus sama-sama berusaha. Tidak adil bila ia sendiri yang melayani Anda. Entah Anda memang pemalas, atau Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan, hal itu membuat si dia kesal. Tunjukkan bahwa Anda berhasrat padanya, pamerkan ekspresi Anda saat merasa begitu nikmat, keluarkan suara Anda bila itu memang membuat Anda lebih nyaman, dan beri sentuhan apa pun yang menyenangkan buat dia.

sumber: http://www.mypepito.info/2010/01/9-hal-yang-bikin-pria-ilfil-saat-ml.html

Goojje.com, Kembaran google dari RRC


Beijing - Belum reda ketegangan China-Google, tiba-tiba muncul mesin pencari tiruan Google di Negeri Tirai Bambu. Diberi nama Goojje.com, saudara perempuan Google ini kabarnya dibesut oleh mahasiswi di Guangdong.

Bertambah kuatlah reputasi China sebagai ‘jagonya’ membuat barang tiruan. Goojje.com lahir pada 14 Januari 2010, 2 hari sesudah Googlle koar-koar bahwa mereka akan menutup portal Google.cn dan berniat hengkang dari China.

Sekadar informasi, suku kata ‘jje’ dalam Goojje berbunyi seperti kosa kata China untuk kakak perempuan. Sedang ‘gle’ dalam Google sendiri berbunyi seperti kosa kata China untuk kakak laki-laki.
http://shanghaiist.com/attachments/shanghailaine/goojje.jpg
Belum diketahui apa tujuan situs ini dibentuk, namun dilansir detikINET dari PC Mag, Kamis (28/1/2010), ia siap bersaing dengan Google namun di saat yang berbarengan ia ingin Google tetap ada di China. "Saudara perempuanmu sangat senang ketika saudara laki-laki tidak jadi pergi dan tetap bertahan," tulis website tersebut.

Selain menyediakan hasil pencarian, Goojje juga memberikan layanan jejaring sosial. The Henan Business Daily mengatakan, situs ini dibesut oleh mahasiswi dari Guangdong.

Belum ada komentar dari Google soal kemunculan search engine yang logonya meniru Google.com ini.

sumber: http://all-mistery.blogspot.com/2010/01/goojjecom-saudara-perempuan-google-dari.html